Shalom,

Natal hampir tiba, kami mengajak siapa saja yang ingin membagikan cerita-cerita / artikel-artikel bertema Natal yang akan kami tampilkan di rumahrenungan.com. Yang ingin membagikan koleksi cerita / artikel-nya bisa kirim ke samuel@rumahrenungan.com atau ke samuelms@ovi.com, tulis "For Christmas" di SUBJECT emailnya.

For more information please visit here.

Thank you... And we waiting... JBU all.. :)

Saturday, November 14, 2009

Weekly Scripture – Amsal 15:3

"Mata TUHAN ada di segala tempat, mengawasi orang jahat dan orang baik" - Amsal 15:3

Baca selengkapnya..

Humor : Balada Wadkidjan

Wakidjan begitu terpesonanya dengan permainan piano Nadine. Sambil bertepuk tangan, ia berteriak, "Not a play! Not a play!"

Nadine bengong. "Not a play?"

"Yes. Not a play. Bukan main."

Tukidjo yang menemani Wakidjan terperangah.

"Bukan main itu bukan not a play, Djan."

"Your granny (Mbahmu). Humanly I have check my dictionary kok.(Orang saya sudah periksa di kamus kok)"

Lalu berpaling ke Nadine. "Lady, let's corner (Mojok yuk). But don't think that are nots (Jangan berpikir yang bukan-bukan). I just want a meal together."

"Ngaco kamu, Djan," Tukidjo tambah gemes.

"Don't be surplus (Jangan berlebihan), Djo. Be wrong a little is OK toch.?" Nadine cuman senyum kecil. "I would love to, but ..."

"Sorry if my friend make you not delicious (Maaf kalau teman saya bikin kamu jadi nggak enak)" sambut Wakidjan ramah.

"Different river, maybe (Lain kali barangkali). I will not be various kok (Saya nggak akan macam-macam kok)."

Setelah Nadine pergi, Wakidjan menatap Tukidjo dengan sebal. "Disturbing aja sih, Djo. Does the language belong to your ancestor (Emang itu bahasa punya moyang lu)?"

Tukidjo cari kalimat penutup. "Just itchy Djan, because you speak English as delicious as your belly button." (Gatel aja, Djan, soalnya kamu ngomong Inggris seenak udelmu dewe).

Wakidjan cuman bisa merutuk dalam hati, "His name is also effort." (Namanya juga usaha)

Baca selengkapnya..

Friday, November 13, 2009

Mengemudikan Hidup Kita

Kita tidak pernah mempertanyakan kemana supir bus kota yang kita tumpangi akan membawa bus-nya. Tetapi kita sering mempertanyakan Tuhan, kemana Dia akan membawa hidup kita.

Seorang ayah mengajak puterinya, Asa, 6 tahun, mengendarai mobil menuju ke sebuah museum.  Sudah lama Asa menginginkannya. Si Ayah kebetulan hari itu mengambil cuti dan sengaja mengantar anaknya ke tempat yang sudah lama diimpikan Asa itu tanpa didampingi Bunda.

Di perjalanan, tak hentinya Asa bertanya kepada si Ayah, “Ayah tahu tempatnya?”, tanya Asa yang duduk di samping kemudi Ayah.

“Tahu, jangan kuatir ...”, jawab Ayah sembari tersenyum.

"Emang Ayah tahu jalan-jalannya?”

“Tahu, jangan kuatir ...”

“Benar, tidak kesasar Ayah?”

“Benar, jangan kuatir ...”, jawab Ayah tetap dengan sabar.

“Nanti kalau Asa haus, bagaimana?”

“Tenang, nanti Ayah beli air mineral ...”

“Terus kalau lapar?”

“Tenang, Ayah ajak mampir Asa ke restoran ...”

“Emang ayah tahu tempat restorannya?”

“Tahu, sayang ...”

“Emang ayah bawa cukup uang?”

“Cukup, sayang ...”

“Kalau Asa pengin ke kamar kecil?”

“Ayah antar sampai depan pintu toilet wanita ...”

“Emang di musium ada toiletnya?”

“Ada, jangan kuatir ...”

“Ayah bawa tissue juga?”

“Bawa, jangan kuatir ...”, kata ayah sembari membelokkan mobilnya masuk jalan tikus, karena macet.

“Kok Ayah belok ke jalan jelek dan sempit begini?”

“Ayah cari jalan yang lebih cepat ... supaya Asa bisa menikmati museum lebih lama nanti ...”

Tidak berapa lama,  Asa kemudian tidak bertanya-tanya lagi. Giliran sang Ayah yang bingung, “Kenapa Asa diam, sayang?”

“Ya, Asa percaya Ayah deh! Ayah pasti tahu, akan antar dan bantu Asa nanti!”

Kita ini seperti Asa si anak kecil ini.  Kita bertanya banyak hal mengenai apa yang kita hadapi dan terjadi dalam hidup kita.  Terlalu banyak khawatir apa yang akan kita hadapi.  Padahal sesungguhnya Tuhan “sedang mengemudi” buat kita semua. 

Kadang Ia membawa ke “gang sempit” yang barangkali tidak enak, tetapi itu semua untuk menghindari "kemacetan" di jalan yang lain.  Kadang Ia memperlambat "kendaraan-Nya", kadang mempercepat. Semuanya ada maksudnya.

Ada baiknya kalau kita menyerahkan hal-hal yang di luar jangkauan kita kepada-Nya.  Biarkan Dia berkarya atas hidup Anda, biarkan Dia mengemudikan hidup Anda, sebaliknya fokuskan hidup Anda kepada hal-hal yang Anda bisa kerjakan di depan mata, dengan berkat kemampuan yang Anda sudah miliki.

Baca selengkapnya..

Thursday, November 12, 2009

Dilarang Memancing

Ada sebuah legenda mengenai seorang pendeta di sebuah paroki kecil di daerah Midwestern yang sebagai seorang muda telah melakukan apa yang menurutnya adalah sebuah dosa yang amat besar. Sekalipun ia telah meminta pengampunan Tuhan, sepanjang hidupnya ia menanggung beban dari dosanya itu. Sekalipun ia telah menjadi seorang pendeta, ia tetap tak dapat dengan tuntas meyakini bahwa Tuhan telah mengampuninya. Tetapi ia mendengar mengenai seorang wanita tua dijemaatnya yang kadangkala mendapatkan penglihatan. Di saat mendapat penglihatan tersebut, sang wanita seringkali saling berkata-kata dengan Tuhan.
Suatu hari sang pendeta berhasil mendapat cukup keberanian untuk mengunjungi wanita tersebut. Sang wanita mempersilahkannya masuk dan menyuguhkan secangkir teh. Pada akhir kunjungannya, si pendeta menaruh cangkirnya diatas meja dan memandang pada sang wanita.
“Benarkah kadang kala ibu mendapat penglihatan?”, tanyanya.
“Ya”, ia menjawab.
“Apakah juga benar, bahwa saat penglihatan tersebut, ibu seringkali berkata-kata dengan Tuhan?”
“Ya”, jawabnya.
“Mmm... jika anda mendapatkan penglihatan lagi dan berkata-kata dengan Tuhan, maukah ibu tanyakan satu pertanyaan bagi saya?”.
Sang wanita memandang sedikit heran pada si pendeta. Belum pernah ia mendapat permintaan seperti itu. “Ya, dengan senang hati,” jawabnya. “Apa yang bapak ingin saya tanyakan?”
“Mmm..” sang pendeta memulai, “Tolong tanyakan pada Tuhan, dosa apakah yang pernah dilakukan pendetanya ini di masa mudanya.”
Sang wanita, benar-benar heran sekarang, segera saja setuju. Beberapa minggupun berlalu, dan sang pendeta sekali lagi mengunjungi wanita itu. Setelah menikmati secangkir teh, dengan hati-hati dan malu-malu ia bertanya, “Sudahkah ibu mendapatkan penglihatan baru-baru ini?”
“Oh ya, saya mendapatkannya”, jawab sang wanita.
“Apakah anda saling berkata-kata dengan Tuhan?”
“Ya.”
“Apakah ibu bertanya kepada Tuhan dosa apakah yang pernah saya lakukan dimasa muda saya?”
“Ya,” sang wanita menjawab, “Saya menanyakannya.”
Sang pendeta, gelisah dan takut, ragu-ragu sejenak dan kemudian bertanya, “Lalu,apa yang Tuhan katakan?”
Sang wanita mengangkat wajahnya dan memandang si pendeta dan kemudian menjawab dengan lembut, “Tuhan mengatakan Ia tidak dapat lagi mengingatnya.”
Tuhan tidak hanya mengampuni dosa, Ia juga memilih untuk melupakannya. Alkitab menyatakan pada kita bahwa Ia mengambil dosa-dosa kita dan membenamkannya di bagian laut yang terdalam. Dan kemudian, sebagaimana yang pernah dikatakan oleh Corrie ten Boom, “Sesudah itu ia memasang sebuah papan bertuliskan, Dilarang Memancing.”
Jika Tuhan mengampuni kita, dapatkah kita melakukan sesuatu yang  kurang dari itu?

Baca selengkapnya..

Wednesday, November 11, 2009

Peka Akan Suara Tuhan

Seorang anak muda berdoa pada Tuhan karena ingin melihat mujizatNya dinyatakan. “Tuhan apabila Engkau benar-benar berkuasa turunkanlah api dari langit seperti yang Kau lakukan pada Elia. Tuhan apabila Engkau benar-benar berkuasa redakanlah semua badai yang terjadi di bumi saat ini juga seperti yang telah Engkau lakukan saat menyeberang danau Galilea.”

Setelah menunggu lama, anak muda itu tidak melihat satupun dari doanya itu terjadi. karena itu dia mulai bertanya-tanya pada Tuhan. “Tuhan dimanakah kuasaMu yang dulu? Mengapa Engkau hanya diam tanpa menjawab doaku? Apakah Engkau sudah tidak sanggup melakukannya lagi? Atau barang kali Engkau sudah terlalu tua sehingga tidak bisa melakukan hal-hal yang besar seperti dulu lagi...”

Sebulan kemudian pemuda itu mendapat sebuah surat. Di amplop surat itu terdapat tulisan “YHWH - arsitek alam semesta”. Karena penasaran dengan cepat dia membuka suratnya. Sesaat kemudian sambil membaca surat itu dia mulai meneteskan air mata penyesalan karena kebodohannya selama itu.

Surat itu berisi :
Anakku mengapa engkau buta dan tuli... Bukankan aku telah menjawab semua doamu... Aku menurunkan api dari langit, bukan untuk membakar korban bakaran yang mati, tapi untuk membakar semangat orang-orang yang telah memberikan dirinya sebagai korban yang hidup, untuk menyalakan roh mereka sehingga mereka dapat menjadi saksiKu di dunia ini. Aku meredakan semua badai di bumi, bukan badai yang mengamuk di lautan atau angin puyuh di daratan, tapi Aku meredakan semua badai yang mengamuk di kehidupan anak-anak yang Kukasihi termasuk Engkau...

Salam,
Bapa yang sangat mengasihimu

Baca selengkapnya..

 

Rumah Renungan Copyright © 2009 WoodMag is Designed by Ipietoon and modified by Rumah Renungan